
Pendahuluan
Di era industri 5.0, publikasi ilmiah tidak hanya menjadi sarana diseminasi ilmu pengetahuan, tetapi juga indikator kinerja riset, reputasi akademik, bahkan peringkat universitas. Pemerintah Indonesia telah mengembangkan SINTA sebagai sistem untuk memantau, mengukur, dan mengevaluasi publikasi dosen serta institusi di tingkat nasional.
Di sisi lain, banyak peneliti juga berupaya menembus publikasi internasional dengan target jurnal bereputasi yang diindeks Scopus. Hal ini bukan hanya untuk meningkatkan sitasi, tetapi juga untuk memperkuat kolaborasi global dan menaikkan daya saing perguruan tinggi di peringkat dunia seperti QS Ranking atau THE WUR (Times Higher Education World University Ranking).
Memahami perbedaan antara jurnal SINTA dan Scopus menjadi penting agar peneliti dapat menyusun strategi publikasi yang tepat sasaran. Artikel ini akan menguraikan tujuh perbedaan utama keduanya dengan bahasa yang jelas dan aplikatif.
Pembahasan
Definisi dan Tujuan
SINTA adalah Science and Technology Index yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Fungsinya tidak hanya menampilkan data publikasi, tetapi juga memetakan kinerja dosen, peneliti, lembaga, dan jurnal nasional. Tujuan utama SINTA adalah mendorong peningkatan kualitas publikasi di Indonesia dan menyediakan basis data terintegrasi untuk evaluasi kebijakan riset.
Sebaliknya, Scopus adalah basis data bibliografi internasional yang dikelola Elsevier. Scopus mencakup jurnal dari berbagai negara dan disiplin ilmu. Tujuan Scopus adalah memberikan indeksasi yang komprehensif untuk memfasilitasi pencarian literatur, analisis sitasi, serta pemetaan tren penelitian secara global.
Cakupan dan Ruang Lingkup
SINTA berfokus pada jurnal Indonesia, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris, selama memenuhi kriteria akreditasi nasional. Hal ini memungkinkan peneliti untuk mempublikasikan hasil riset lokal, termasuk penelitian terapan yang relevan dengan kebutuhan nasional.
Sementara itu, Scopus bersifat global, mencakup lebih dari 27.000 jurnal peer-reviewed dari seluruh dunia. Jurnal yang terindeks Scopus umumnya berbahasa Inggris agar dapat diakses oleh komunitas ilmiah internasional. Dengan demikian, Scopus menawarkan visibilitas yang jauh lebih luas.
Kriteria Seleksi dan Akreditasi
Untuk masuk ke SINTA, jurnal harus melalui proses akreditasi nasional melalui ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional). Penilaian meliputi aspek manajemen editorial, kualitas artikel, keteraturan terbit, dan keterbukaan akses. Jurnal kemudian diberikan peringkat SINTA 1 sampai SINTA 6, dengan SINTA 1 sebagai yang tertinggi.
Scopus memiliki Content Selection & Advisory Board (CSAB) yang melakukan seleksi secara ketat. Proses seleksi menilai keberlanjutan jurnal, kualitas peer-review, standar etika, keterbacaan internasional, dan konsistensi penerbitan. Proses ini memakan waktu lama dan hanya jurnal dengan reputasi baik yang dapat diterima.
Metrik Penilaian
SINTA menampilkan metrik seperti jumlah artikel, sitasi, h-index versi nasional, dan skor SINTA dari setiap dosen atau institusi. Metrik ini digunakan untuk keperluan kenaikan jabatan fungsional, sertifikasi dosen, dan evaluasi akreditasi program studi.
Scopus menyediakan metrik seperti CiteScore, SJR (SCImago Journal Rank), dan SNIP (Source Normalized Impact per Paper). Metrik ini diakui secara global dan menjadi indikator penting dalam pemeringkatan universitas dunia.
Manfaat bagi Peneliti dan Institusi
Publikasi di jurnal SINTA bermanfaat bagi peneliti yang ingin memenuhi target nasional seperti sertifikasi dosen, kenaikan pangkat, atau syarat akreditasi. Publikasi ini relatif lebih mudah dijangkau oleh peneliti pemula.
Publikasi di jurnal Scopus memberikan manfaat berupa eksposur global, peningkatan sitasi, dan peluang kolaborasi internasional. Hal ini penting bagi institusi yang ingin meningkatkan peringkat internasionalnya dan menarik perhatian mitra riset global.
Tantangan Publikasi
Publikasi di jurnal SINTA umumnya lebih cepat dan biayanya relatif terjangkau, tetapi dampak internasionalnya terbatas. Tantangan utamanya adalah memastikan kualitas artikel sesuai standar akreditasi.
Publikasi di Scopus memerlukan naskah dengan kualitas tinggi, kebaruan penelitian, dan bahasa Inggris yang baik. Proses review bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari satu tahun. Selain itu, beberapa jurnal Scopus mengenakan article processing charge (APC) yang cukup mahal.
Dampak terhadap Karier Akademik
Publikasi di jurnal SINTA cukup untuk memenuhi persyaratan administratif dosen di Indonesia. Namun, untuk meraih jabatan profesor atau meningkatkan reputasi internasional, publikasi di jurnal Scopus sangat disarankan. Hal ini juga memengaruhi world ranking universitas, sehingga institusi mendorong dosennya untuk mempublikasikan karya di jurnal bereputasi internasional.
Kesimpulan
Baik SINTA maupun Scopus memiliki peran penting dalam mendukung ekosistem riset. SINTA mendukung pemetaan dan pembinaan penelitian di tingkat nasional, sedangkan Scopus memberikan panggung internasional. Peneliti idealnya memanfaatkan keduanya secara bertahap: mulai dari publikasi di jurnal SINTA untuk membangun portofolio, lalu meningkatkan kualitas penelitian untuk menembus jurnal Scopus. Dengan demikian, peneliti dapat memenuhi kewajiban nasional sekaligus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global.
baca selengkapnya https://www.olahdatastatistik.id/3-rahasia-sukses-publikasi-di-scopus-dengan-jasa-profesional-pembuatan-jurnal/
baca selengkapnya https://www.pembuatantesis.com/10-faktor-penyebab-tesis-tidak-selesai-dan-cara-efektif-mengatasinya/